Ini adalah kisahku yang mempercayai bahwa dia adalah CINTA SUCIKU
yang akan kembali kepadaku. Aku senang bisa mendapatkannya kembali,
karena kami sudah lama berpacaran dan hubungan kami kandas karena
kehadiran orang ketiga, tapi kami sudah berjanji untuk saling
mempercayai dan karena itu aku sudah sangat menyayanginya.
Pagi itu aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah karena aku
akan bertemu dengan dia, tapi semua tidak seperti yang kuharapkan.
Tiba-tiba temanku mendekatinya lalu berbisik, aku heran dan bergumam
dalam hati “kenapa Abbray ngedeketin Dinda?” “padahal kan dia tau
kalau Dinda itu milikku”. Aku tidak terlalu menghiraukan, tapi
entah kenapa air mataku langsung keluar dan mengalir dengan derasnya.
Aku pun meminta tolong kepada temanku yang bernama Ade TiVani untuk
memanggil Dinda “De tolong panggilin Dinda dong” “iya, tapi
bilang apa?” ujar Ade. “bilang aja Arman nangis” ujarku, Ade pun
berlari menuju tempat Dinda dan Munira berbicara. Tak lama
kemudian Dinda datang menghampiriku dan berkata “kamu kenapa?, kok
nangis?” ujar Dinda “gak papa kok Din” ujarku, “kalau gak papa
kenapa nangis?” ujar Dinda. Aku hanya diam, terpaku melihatnya
karena aku sungguh menyayanginya. Dinda memegang tanganku dan
berkata “air matanya ngalir tuh” ujar Dinda, “gak kok Din” ujarku
sambil mengusap air mata yang memang dari tadi mengalir di pipiku.
Tiba-tiba Munira menarik tangan Dinda membawanya pergi, aku
hanya bisa diam karena aku tidak mau menunjukkan bahwa aku sangat
membutuhkan kehadiran Dinda. Munira dan Dinda pun pergi
meninggalkanku sendiri, aku pun bersama teman-temanku. Sudah lama
kutunggu kedatangan Dinda untuk menemaniku, tapi dia berada di
depan kelas bersama Munira, Rinda, Khairunissa dan Abbray. Dengan
sengaja
aku berjalan menuju kelas “Arman tolongin aku nah” ujar Dinda, aku
pun membiarkan karena aku merasa sakit hati lalu dengan sengaja ku sapa
Widya dengan wajah gembira “Widya” ujarku “iya Arman” Widya membalas
sapaanku terhadapnya.
Tak lama bell masuk kelas pun berbunyi Dinda dan Munira pun
beranjak pergi dari depan kelas. Aku pun memulai pelajaran dengan
keadaan yang tidak semangat, setelah belajar bell istirahat pun berbunyi
aku mendapat kabar yang sangat mengejutkan, “Ar kamu tau gak kalau
Abbray suka sama Dinda?” ujar Chici, “yang bener” ucapku. Belum
sempat Chici berkata aku langsung pergi menghampiri Ade dan memanggil
Dinda, “Dinda sini dulu” ucapku, Dinda datang “apa?” ucap Dinda, aku
langsung bertanya soal Abbray. “Dinda suka kan sama Abbray, jujur aja”
“gak Arman” ucap Dinda, “halah gak usah bohong Din” ujarku tak lama
kemudian Munira datang dan lagi-lagi menarik Dinda dan membawanya pergi.
Saat itu aku sangat lemah karena masalah
itu, tapi aku mencoba untuk tetap tegar mengahadapinya. Aku pun pergi
mendatangi Fajri, entah kenapa saat di sampingnya air mataku menetes
karena mengingat soal Abbray yang suka sama pacarku Dinda.
Saat air mataku mengalir deras, aku mencoba untuk memanggilnya
“Dinda” teriakku dengan suara yang sangat tidak berdaya. Dinda pun
datang dan bertanya “kenapa nangis lagi?” ujar Dinda, aku hanya
bertanya “benerkan kamu juga suka sama Abbray terus kamu di tembak dia”
ucapku dengan kesal. “gak tu nah Ya Allah” ucap Dinda “gak usah
bohong ” ucapku. Tak lama bell masuk pun berbunyi Dinda pun
pergi meninggalkanku. Saat di dalam kelas aku hanya bisa terdiam dan
bersedih. Bell pulang sekolah pun berbunyi, aku pun langsung pulang ke
rumah, setelah sampai di rumah aku pun mengambil Handphoneku yang ada di
samping bantal tempat tidurku, dan membuka HP. Kemudian ku PING temanku
yang bernama Annisa melalui BBM. “Annisa aku harus gimana?” ujarku ke
Annisa
melalui BBM, “kamu kacangi aja mereka” ujar Annisa, “tapi aku gak bisa
kaya gitu Annisa” ucapku, “ya udah terserah kamu aja, tapi ingat jangan
GALAU ya Arman” ujar Annisa menyemangatiku. Dinda pun mengirim BBM ke
aku “sayang” kata Dinda “iya” balasku. Tiba-tiba perubahan sangat
terlihat dari Dinda, dia tidak ada lagi membalas BBM-ku. Aku hanya
bisa berkata “ya sudahlah”.
Ketika sampai di sekolah aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi
kerapuhanku yang terjadi karena perbuatan Abbray dan Dinda sudah
jadian. “ya sudahlah” ucapku dalam hati. Ketika aku berada di dalam
kelas bersama Winalda teman sebangku ku “Win, kok aku ngerasa dia cinta suciku
yah” ucapku pada Winalda, “itu karena Batinmu bisa ngerasain kalau memang
dia cinta sucimu” ucap Winalda. “dia bakalan balik ke kamu Ar, karena dia
cinta sucimu” ucap Winalda menyemangatiku, aku hanya membalas dengan
senyuman. “aku yakin kamu bakalan balik lagi ke aku, karena takdirmu itu
aku dan takdirku itu kamu” ucapku dalam hati, dan aku hanya mengucapkan
selamat tinggal pada Dinda Tilana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar